KATA PENGANTAR
Banyak orang bertanya, "Mengapa CATUR dimasukkan cabang olah raga ?" Semua orang tahu bahwa 'catur' atau orang Banyumas menyebutnya 'sekak' adalah sebuah permainan memeras otak.
Mengapa tidak dimasukkan cabang seni / permainan; atau kelompok tersendiri misalnya dengan sebutan 'olah otak' ? Biarlah pertanyaan itu dijawab oleh para ahlinya.
Penulis hanya ingin menjembatani, bagaimana catur atau sekak yang sudah telanjur masuk cabang olah raga dapat menjadi olah raga yang sebenarnya, atau minimal para pemainnya dapat keluar keringat, dan supporter atau penonton pun dapat jingkrak-jingkrak atau bersorak layaknya menyaksikan pertandingan sepak bola.
Mudah-mudahan buku kecil ini mampu menggugah pembaca yang setuju dengan ide penulis, segera dapat mengimplementasikan dan mengembangkannya. Sedangkan bagi yang tidak setuju silakan menyusun buku tandingan dan segera menerbitkannya.
Tiada gading yang tak retak, tiada lautan yang tidak berombak. Kritik dan saran penulis nantikan, boleh lewat SMS, surat pembaca, atau media yang layak untuk keperluan itu.
Penulis,
H. Muhyi Fadlil, S.Pd.
DAFTAR ISI
Bagian Satu,
Mengolahragkan Catur, dan Memasyarakatkan Seni Percaturan
Bagian Dua,
Dhalang dan Pemain Sekak Banyumasan
Bagian Tiga,
Lapangan
Bagian Empat,
Aturan Dasar Permainan
Bagian Lima,
Wasit dan Pembantu Wasit
Bagian Enam,
Pengembangan Yang Dimungkinkan
Bagian Tujuh,
Supporte
Bagian Satu,
Pentingnya Mengolahragakan Catur, dan
Memasyarakatkan Seni Percaturan
Ada pertanyaan menggelitik "Mengapa catur masuk cabang olah raga?" Padahalkita tahu bahwa permainan 'CATUR,' atau SEKAK, hanya dimainkan oleh dua orang sambil duduk tanpa mengeluarkan keringat. Meskipun dipertandingkan, biasanya tidak banyak penonton, atau kalau ada satu dua pun mereka duduk membisu tanpa suara.
Pertanyaan serupa sering kita dengar baik di kantin, warung kopi, atau arena porseni. Buku ini tidak dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan di atas, tetapi bagaimana cabang olah raga yang telah mendunia itu betul-betul dapat dirasakan manfaatnya baik oleh para pemain maupun penonton.
Istilah "SEKAK BANYUMASAN" penulis gunakan karena ide ini muncul dari wong Banyumas, yang juga pendiri Museum Rekor Banyuimas Harapan penul;is, permainan ini dapat berkembang di daerah kelahirannya, dan tersebar luas di Indonesia bahkan di dunia dengan membawa nama Banyumas.
Dasar-dasar permainan sama dengan permainan catur yang sudah dikenal selama ini, tetapi jumlah pemainnya lebih banyak yaitu 17 (tujuh belas) orang untuk satu tim. Seorang pemain utama disebut "Dhalang" dan enam belas pemain lainnya menempati posisi 'buah catur' dengan peranan masing-masing.
Bolehlah dikatakan bahwa Sekak Banyumasan adalah 'Permainan Catur Dengan Buah Manusia.' Agar warna permainan catur tampak jelas, maka lapangan yang digunakan adalah lapangan berpetak, berbentuk papan catur raksasa dengan ukuran sekitar 8 x 8 meter atau minimal 4,8 x 4,8 meter.
Para pemain yang memerankan buah catur diharapkan juga menggunakan simbol / kuluk /mahkota menyerupai Ratu/Raja, Patih, Menteri, Kuda, Benteng dan Spion. Pemililihan postur pemain pun diusahakan mewakili peran masing-masing.
Untuk tahap awal pelatihan dapat saja digunakan tanda pengenal berupa tulisan atau gambar/simbol sederhana. Yang penting membangun semangat terlebih dahulu, pakaian dapat diupayakan kemudian. Tentang Dhalang dan pemain akan dijelaskan pada bagian dua.
Warna permainan Sekak Banyumasan adalah gembira dan menggembirakan. Artinya pemain merasa gembira, dapat sambil jingkrak-jingkrak atau menggerak-gerakkan tubuh sepanjang tidak merusak jalannya permainan; dan penonton merasa terhibur.
Untuk ini Dhalang harus pandai mengatur strategi agar aturan pemainan dapat ditegakkan, tetapi tidak terkesan kaku dan membosankan. Serius (taat asas) tetapi santai dan mampu mengelola permainan sebagai sebuah hiburan. Istilah dalang dikandung maksud agar figur yang menempati posisi ini, layaknya seorang dhalang perwayangan.
Para pemain disarankan mengetahui aturan bermain catur sebagai modal dasar, terutama bagi pemain belakang (Ratu, Seter, Menteri, Kuda dan Benteng). Sedangkan untuk peran buah (spion) boleh saja dimainkan oleh pemain pemula yang belum cukup menguasai aturan bermain catur.
Dalam keadaan tertentu--misalnya Dhalang berhalangan--Ratu dapat merangkap sebagai Dhalang, dan Seter/Patih dapat menyampaikan usul yang dirasa menguntungkan timnya. Tentu saja harus ada kesepakatan antar kedua tim yang bertanding.
Dalam pertandingan resmi 'rangkap jabatan' tentu tidak boleh terjadi, tetapi peluang Ratu dan/atau Patih untuk memberikan usul kepada Dhalang--sebelum menentukan langkah--dapat dimasukkan dalam aturan pertandingan,
Secara singkat tujuan Sekak Banyumasan adalah "mengolahragakan catur dan memasyarakatkan seni percaturan." dengan penjelasan sebagai berikut
1. Mengolahragakan Catur
Dikandung maksud untuk memberikan kesan kepada masyarakat bahwa permainan catur dapat dikemas sebagai permainan, hiburan dan olah raga.
2. Memasyarakatkan Seni Percaturan
Agar permainan catur lebih dikenal oleh masyarakat luas sebagaii seni, hiburan dan olah raga melalui Sekak Banyumasan
Bagian Dua,
Dhalang dan Pemain
Perbedaan permainan Catur dengan Sekak Banyumasan adalah terletak pada jumlah pemain dan variasi dalam memainkannya. Pada permainan catur jumlah pemain setiap tim hanya satu orang untuk setiap permainan.
Untuk pertandingan catur beregu jumlah pemain dapat lebih dari satu sesuai dengan jumlah permainan yang dipertandingkan. Artinya kalau dipertandingkan 3 permainan, maka ada 3 pemain untuk setiap tim, masing-masing bertanding 1 lawan 1, dan hasilnya baru dijumlah untuk menentukan kemenangan/kekalahan. Sedangkan pada Sekak Banyumasan, satu tim terdiri dari 17 orang terdiri dari 1 orang Dhalang dan 16 pemain/pelaku. Jumlah enam belas adalah sama dengan jumlah buah dalam permainan catur, karena Sekak Banyumasan memang diadopsi dan modifikasi dari permainan catur yang sudah dikenal selama ini.
Dhalang dalam Sekak Banyumasan adalah identik pemain catur yang sesungguhnya. Sedangkan enam belas pemain/pelaku identik dengan buah catur yang terdiri dari :
1 (satu) orang berperan sebagai Ratu,
1 (satu) orang berperan sebagai Patih,
2 (satu) orang berperan sebagai Menteri,
2 (satu) orang berperan sebagai Kuda,
2 (satu) orang berperan sebagai Benteng, dan
8 (satu) orang berperan sebagai Buah/Spion.
Karena buah catur (pemain/pelaku) diperankan oleh manusia, maka dimungkinkan satu atau beberapa orang pemain diberi hak untuk membantu Dhalang. Hal ini dimaksudkan agar permainan tidak beku, karena terjadi dialog antara Dhalang dengan para pemain.
Peran Dhalang dalam memilih karakter dan mengkondisikan pemain akan mewarnai penampilan tim dalam sebuah pertandingan. Dengan kata lain Dhalang dalam Sekak Banyumasan adalah pecatur sejati yang telah teruji kemampuannya, tetapi sekaligus juga seniman yang mampu mengolah permainan menjadi menarik.
Meskipun boleh saja pemain-pelaku bersifat pasip dalam arti hanya menjalankan perintah Dhalang, namun disarankan rekrutmen pemain perlu selektif, minimal diambil dari mereka yang tahu--atau setidaknya ingin tahu--aturan dalam permainan catur.
Misal seorang guru di sekolah yang ingin mengajak murid atau siswanya menjadi pemain Sekak Banyumasan. Jika guru tersebut menguasai aturan dan teknik bermain catur dia dapat langsung menjadi Dhalang. Tetapi kalau dia kurang menguasai, boleh menunjuk orang lain sebagai Dhalang.
Selanjutnya Dhalang (baik diperankan Guru maupun orang lain) memilih calon pemain, sesuai atau mendekati karakter yang diperankan. Misalnya untuk peran Ratu dipilih siswa pendiam tetapi cerdas dengan postur tubuh yang memadai. Peran Patih dipercayakan kepada siswa yang cerdas ulet dan lincah juga dengan postur tubuh yang memadai.
Menteri, kuda dan benteng dipilih dari siswa yang sedikit memahami karakter masing-masing, dengan postur tubuh sedang. Siswa dengan postur tubuh kecil diberikan peran sebagai Spion atau buah. Untuk peran terakhir ini, jika terpaksa bisa saja diberikan kepada siswa tanpa bekal pengetahuan bermain catur.
Untuk latihan di kelas dapat dijalankan jika siswa satu kelas berjumlah siswa 32 orang (dua tim). Di sekolah dengan kelas paralel akan lebih baik diambil beberapa kelas sehingga pemain dapat dipilih sesuai kebutuhan.
Sekak banyumasan dapat dikembangkan di berbagai komunitasatau perkumpulan seperti Pramuka, kelompok generasi muda, kelompok seni dan lain-lain dengan berbagai ciri khas masing-masing. Namun tentu saja aturan dasar permainan harus tetap dipatuhi.
Dalam pertandingan Sekak Banyumasan dapat dipertimbangkan jumlah pemain cadangan yang diperbolehkan, jumlah dan posisi pemain yang dapat membantu Dhalang, gerakan massal pemain yang diperkenankan dan sebagainya.
Bagian Tiga,
Lapangan
Kalau pada permainan Catur biasa ukuran lapangan atau papan relatif kecil--berkisar 30 x 30 cm sampai 50 x 50 cm--pada Sekak Banyumasan ukuran lapangan adalah minimal 4,8 x 4,8 meter untuk permainan di ruang tertutup; dan maksimal 8 x 8 meter di ruang terbuka.
Lapangan Sekak Banyumasan dapat dibuat dengan gedeg (anyaman bambu), tripleks atau kayu sebagai alas atau bahan dasar. Petak sebagaimana pada papan catur dibuat dengan warna hitam dan putih selang-seling 8 ke samping dan 8 ke depan.
Kode setiap petak berlaku sama dengan papan catur yaitu :
A1, A2, A3, A4, A5, A6, A7, A8;
B1, B2, B3, B4, B5, B6, B7, B8;
C1, C2, C3, C4, C5, C6, C7, C8;
D1, D2, D3, D4, D5, D6, D7, D8;
E1, E2, E3, E4, E5, E6, E7, E8;
F1, F2, F3, F4, F5, F6, F7, F8;
G1, G2, G3, G4, G5, G6, G7, G8;
H1, H2, H3, H4, H5, H6, H7, H8;
Semua pemain harus mengetahui kode setiap petak, karena instruksi dasar dari Dhalang kepada pemain untuk melangkah adalah dengan menyebut petak tempat mereka berada ke petak yang dituju. Untuk memudahkan para pemain dan Dhalang sebaiknya setiap petak diberi kode yang sesuai, di samping kode huruf dan angka pada sisi lapangan.
Karena luas/besarnya lapangan Sekak Banyumasan, maka dapat dibuat menjadi beberapa bagian yang ketika bagian-bagian itu dirangkai berbentuk lapangan yang utuh. Hal ini untuk memudahkan penyimpanan dan pemindahan lapangan dari saeu tempat ke tempat yang lain.
Untuk latihan tahap awal petak lapangan sederhana dapat dibentuk dengan tali di atas rumput, garis kapur di atas tegel/lantai, atau bahan lain seperti kardus, karton, tikar dan sebagainya. Yang perlu diperhatikan adalah perbedaan warna untuk menunjukkan petak putih dan petak hitam berselang-seling; dan kode setiap petaknya harus jelas terbaca.
Dengan tetap memperhatikan ketentuan dasar tentang lapangan Sekak Banyumasan, penyelenggara atau Dhalang dapat mengembangkan bentuk lapangan agar lebih menarik baik bagi para pemain maupun penonton.
Bagian Empat,
Aturan Dasar Permainan
Aturan dasar permainan Sekak Banyumasan sama persis dengan aturan dalam permainan Catur. Penataan awal Ratu didampingi Patih,dua Menteri, dua Kuda dan dua Benteng di baris belakang; sementara delapan spion/bidak berjajar di baris depan.
Tim putih dan tim hitam sama-sama menempatkan 16 pemain layaknya buah catur, dengan dikomando oleh seorang Dhalang; yang dalam permainan catur berperan sebagai 'pecatur.' Karena semua pemainnya adalah manusia (hidup) maka Dhalang tidak perlu membopong atau menuntun pemain, cukup dengan memberikan instruksi.
Berdasarkan kesepakatan antar kedua tim atau aturan pertandingan yang ditentukan panitia, Ratu dan atau Patih dapat membantu Dhalang dengan memberikan usul tentang langkah yang mungkin dipilih oleh Dhalang.
Gerakan spion adalah maju lurus ke depan satu langkah, atau dapat dua langkah khusus pada gerakan pertama. Sedangkan cara menyerang/makan adalah menyudut satu langkah ke depan dan satu langkah ke samping kanan atau samping kiri.
Spion yang maju dua langkah dapat diserang/dimakan oleh musuh, baik pada posisi langkah kedua maupun langkah pertama. Keistimewaan spion adalah ketika mampu melangkah sampai garis terdepan (garis belakang musuh), dia langsung dinobatkan menjadi Patih; baik ketika Patih asli telah mati atau masih hidup.
Gerakan Benteng adalah lurus ke depan, ke belakang atau ke samping, satu atau beberapa langkah dengan syarat tidak ada penghalang. Gerakan langkah biasa (pindah tempat) atau gerakan menyerang/makan sama persis, tidak ada perbedaan. Dalam posisi tertutup Benteng tidak dapat bergerak.
Gerakan Menteri adalah menyudut atau membuatgaris diagonal. Boleh ke depan samping, atau belakang samping, satu atau beberapa langkah melalui ruang kosong. Karena sifat gerakannya, maka Menteri yang menempati petak putuh harus tetap berada di petak putih; dan Menteri yang menempati petak hitam tetap berada di petak hitam. Dalam posisi tertutup Menteri tidak dapat bergerak.
Gerakan Patih adalah perpaduan antara gerakan Benteng dan Menteri. Dapat bergerak lurus ke semua arah, menyudut ke semua arah, asalkan setiap petak yang dilewati dalam keadaan kosong. Patih asli dan Patih baru (jelmaan spion) memiliki keleluasaan gerakan yang sama. Hanya gerakan kuda yang tidak dapat diperankan oleh Patih.
Gerakan Ratu adalah bebas tetapi terbatas. Dapat maju, mundur, menyamping, menyudut tetapi hanya satu langkah ke petak yang bersentuhan dengan petak asal. Kesaktian Ratu nyaris tidak pernah mati, karena begitu Ratu terancam dan tak mampu menyelamatkan diri, permainan catur selesai dan tim yang ratunya terancam dianggap kalah.
Langkah Ratu memang tidak sebebas langkah Patih, tetapi karena hidup matinya menentukan kemenangan dan kekalahan tim, maka posisi Ratu harus selalu terlindung dari serangan musuh. Dalam keadaan terdesak, 'siapa' pun boleh dikorbankan sang Ratu tetap hidup dan permainan dapat diteruskan.
Kuda memiliki gerakan/langkah istimewa yang tidak dimiliki pemain lain. Pertama, pemain ini tidak mengenal penghalang untuk bergerak, kecuali jika teman sendiri berada di tempat tujuan Kuda gerakannya adalah dua langkah ke depan/belakang ditambah satu langkah ke samping kiri/kanan atau (sebaliknya) dua langkah ke samping kiri/kanan ditambah satu langkan ke depan/belakang.
Setiap pemain Sekak Banyumasan mengemban tugas dan memiliki posisi berbeda-beda. Spion bertugas membantu penyerangan dan siap menjadi korban jika Ratu atau pemain lain dalam keadaan terancam bahaya akibat serangan lawan.
Menteri, Kuda, Benteng dan Patih bertugas melakukan penyerangan sendiri-sendiri atau terpadu di bawah kordinasi Patih. Mereka berupaya saling melindungi dari serangan musuh, dan Spion pun siap melindungi mereka atau bahkan berkorban untuk keselamatan mereka.
Dalam posisi Ratu terancam, mereka bekerja sama untukmelindunginya. Jika ada Spion yang mendekati garis paling depan, mereka pun berusaha membantu dengan memberikan perlindungan seperlunya.
Bagian Lima,
Wasit dan Pembantu Wasit
Mengingat jumlah pemain yang cukup banyak, maka diperlukan seorang wasit dan beberapa orang pembantu wasit. Untuk permainan latihan atau uji coba cukup hanya dengan seorang wasit, tetapi untuk pertandingan bergengsi sebaiknya tim wasit terdiri dari seorang Pemimpin pertandingan (wasit) ditambah dua orang pembantu wasit.
Wasit dan pembantu wasit dipilih orang yang mumpuni untuk melaksanakan tugas dan netral, tidakmemihak kepadasalah satu tim yang bertanding.
Seperti dalam pertandingan sepak bola atau lainnya, tugas wasit adalah memimpin pertandingan, memperingatkan Dhalang atau pemaian yang melanggaraturan dan memvonis hukuman atau menyatakan tim yang kalah dan menang dalam pertandingan.
Pembantu Wasit bertugas mencermati komando Dhalang dan mengamati gerakan pemain. Sebagai pembantu wasit mereka hanya melaporkan kepada Wasit apabila mendapati Dhalang atau pemain melanggak aturan, atau membantu eksekusi ketika wasit telah memberikan vonis.
Jika dalam sebuah pertandingan ada pembatasan waktu maka pembantu wasit dapat ditugasi mencatat waktu yang digunakan. Pembatasan dapat dilakukan atas dasar kesepakatan kedua tim atau ketentuan panitia, terkait waktu maksimal untuk sebuah pertandingan atau waktu maksimal untuk setiap langkah. Misalnya :
1. Pembatasan waktu bertanding
Jika ada ketentuan waktu maksimal dalam sebuah pertandingan, maka padasaat waktu habis Wasit dan Pembantu Wasit menganalisis posisi kedua tim. Posisi yang lebih bagus dinyatakan menang, dan posisi yang kurang bagus dinyatakan kalah.
2. Pembatasan waktu melangkah
Jika ada ketentuan waktu maksimal untuk melangkah, maka Dhalang harus betul-betul memperhatikan ketentuan tersebut dan berusaha menginstruksikan pemain untuk melangkah sebelum waktu habis.
Jadi di samping menguasai permainan catur secara umum, Wasitdan Pembantu Wasit Sekak Banyumasan harus mampu menghidupkan suasana agar pemain dan penonton merasa terhibur. Sebab jenis permainan ini bukan hanya untuk mencari kemenangan tetapi juga memiliki fungsi hiburan.
Akan lebih baik jika Wasit dan atau pembantunya memiliki bakat humor, dan mampu bekerja sama dengan para Dhalang untuk mengemas agar permainan dapat berlangsung serius tetapi santaidan menarik untuk ditonton.
Bagian Enam,
Pengembangan Yang Dimungkinkan
Setelah ada gambaran bagaimana memainkan Sekak Banyumasan; para penyekenggara, Dhalang dan para pemain dapat mengembangkan berbagai variasi agar permainan menjadi semakin menarik dan mampu menghadirkan hiburan cerdas bagi generasi mudadan masyarakat luas.
Di bawah ini diberikan beberapa contoh pengembangan yang tidak menyalahi aturan dasar, tetapi diharapkan mampu membuat pemain lebih bergairah dan penonton merasa terhibur.
1. Tanda Pengenal Pemain
Jika memungkinkan, tanda pengenal yang dikenakan para pemain adalah topeng, mahkota atau tutup kepala berbentuk buah catur. Ada topeng atau mahkota Ratu, Patih, Menteri, Kuda, Benteng dan Spion. Namun pada tahap awal boleh saja digunakan ikat kepala dengan tulisan 'Ratu', 'Patih', 'Menteri', 'Kuda', 'Benteng' dan 'Spion' yang mudah dibaca, untuk membedakan pemain satu dengan lainnya.
2. Dialog antara Dhalang dengan para pemain
Untuk menghidupkan suasana permainan, sebelum Dhalang memberikan instruksi yang sesungguhnya, dapat disisipkan dialog seperlunya. Misalnya :
Dhalang, "Wahai Menteri di petak ...."
Menteri, "Ada apa Dhalang memanggilku?"
"Kamu tetap di situ saja dan silakan Benteng di
petak . . . geser ke petak . . . ."
Benteng berjalan sesuai instruksi Dhalang.
3. Gerakan bersama seluruh pemain
Dhalang yang kreatif tidak membiarkan para pemain diam mematung. Mereka dapat dikomando atau dikondisikan untuk melakukan gerakan kepala, badan, tangan, kaki dan sebagainya seperti orang senam. Atau gerakan atraktif yang mengundang tawa penonton dan sebagainya. Dapat pula dibarengi yel-yel atau menyanyi bersama, sepanjang tidak mengganggu konsentrasi, atau mengeluarkan kata ejekan terhadap lawan.
4. Suara khas para pemain
Pada saat pemain bergerak, mengancam atau makan pemain lawan; dapat mengeluarkan suara khas, ucapan atau erangan sesuai karakter yang diperankan pemain. Ketika dimakan pemain lawan, pemain boleh mengaduh,menangis ataumengungkapkan kesedihan sambil keluardari arena permainan.
5. Tukar tempat sesama pemain.
Untuk mengurangi rasa bosan, pemain yang sama dapat mengadakan pertukaran tempat. Spion dengan sesama spion, Menteri dengan Menteri, Benteng dengan Benteng dan Kuda dengan Kuda. Pemain yang telah mati pun, dapat menggantikan posisi pemain yang masih hidup.
Itulah beberapa contoh pengembangan permainan, yang tentunya masih sangat banyak bentuk pengembangan dan variasi lainnya. Sekali lagi peran Dhalang dan para pemain sangat diharapkan untuk menghidupkan suasana permainan.
Bagian Tujuh,
Supporter
Sebenarnya tidak ada atau tidak diperlukan adanya supporter dalam pertandingan Sekak Banyumasan. Sebab sebagaimana dalam pertandingan catur, penonton tidak boleh berkomentar yang dapat merusak sportifitas pemain.
Kalau kemudian muncul dukungan dari penonton sehingga menambah meriahnya pertandingan, diharapkan tidak mengarah pada inti pertandingannya melainkan pada variasinya. Sekak Banyumasan merupakan perpaduan permainan catur yang serius dengan olah raga bagi para pemain dan hiburan bagi penonton.
Maka penonton harus mengetahui batas-batas komentar yang diperbolehkan dengan yang tidak diperbolehkan. Seperti halnya pada pertunjukan wayang, penonton tidak berhak mencampuri urusan Dhalang, namun mereka boleh bersorak ketika tokoh wayang tertentu memenangkan pertarungan atas lawannya.
Demikianlah gambaran posisi penonton dalam Sekak Banyumasan. Dapat berteriak atau berkomentar, bukan pada sisi permainan melainkan pada variasi yang dikembangkan Dhalang dan para pemain. Penonton yang tidak mampu menahan diri untuk tidak berkomentar, sebaiknya menjauh dari lapangan sekak.
Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, dalam pertandingan resmi harus ada kordinator penonton/supporter. Tugasnya adalah mengendalikan penonton agar tidak mengeluarkan kata-kata atau melakukan sesuatu yang tidak semestinya
SELESAI
Jumat, 04 Juli 2008
Langganan:
Komentar (Atom)
